Manajemen Cintamu
Pagi ini, aku teringat dengan beberapa temanku di masa lalu. Saat itu kondisi kami sama, tidak ada yang spesial antara aku dan mereka. Hidayah belum sempat menghampiriku. Proses hijrah belum sempat berkunjung kedalam duniaku. Aku hanya wanita biasa yang bahkan pemahaman agamaku sangat sedikit, aku tak mengenal halaqoh, aku tak punya semngat untuk memiliki banyak hafalan Al-Qur'an dan jilbabku masih satu helai seperti kebanyakan remaja lainnya hehe
Namun, meski dengan segala kondisi burukku saat itu, teman-teman tetap memanggilku dengan sebutan "ibu peri" mereka bilang aku alim, teduh ketika melihat wajahku, sholehah dan apapun itu panggilan yang aku rasa tidak pantas untuk diriku. Entahlah apa yang membuat mereka berfikir seperti itu.
Pada suatu waktu, aku teringat ketika teman-temanku membicarakan tenntang CINTA, saat itu usia kami adalah usia remaja yang penuh emosional. Saat itu aku hanya menjadi pendengar yang baik diantara cerita mereka yang sangat bersemangat membicarakan cinta. Kalimat yang ku ingat mereka bilang "cinta dapat menjadi motivator aktivitas yang kita jalankan, cinta dapat merubah garam menjadi gula, cinta membuat kesedihan menjadi indah, cinta.... ah sudahlah tidak akan pernah selesai kalimat ini jika membicarakan cinta". Mereka membicarakan tentang cinta dengan wajah memerah karna malu dan bahagia.
Kemudian aku tersenyum bersama hela nafas yang panjang..
Salah satu temanku melemparkan pertanyaan dengan nada agak kesal, "Lia kok diem aja sih? Menurutmu cinta itu seperti apa?"
Sejenak aku terdiam memikirkan jawaban apa yang harus aku ucapkan agar teman-temanku tidak memojokkan diriku hehe. Kemudian terlintas wajah papah dan mamah, sambil tersenyum aku menjawab "Cinta akan membawa diri kita pada ketenangan dan kedamaian, Cinta itu tulus, Cinta tak pernah meminta untuk berbalas" Saat itu aku tidak sadar dengan apa yang aku ucapkan, Allah yang menggerakkan mulut ini ketika aku membayangkan wajah kedua orangtuaku.
Tidak seperti mereka,teman-teman ku sangat paham bahwa aku tidak pernah menceritakan lelaki spesial selain ayah dan adikku, mereka berusaha menghadirkan cinta untukku, mereka berusaha menyampaikan salam dari teman laki-laki yang berasal dari berbagai penjuru, mulai dari temen sekelas, berbeda kelas sampai senior yang menitipkan salam untukku. Aku menerima salam mereka tapi cukup sebagai teman.
Aku katakan pada mereka, "Tidak teman aku belum mampu memanajemen diriku, aku takut cinta yang hadir justru akan menghancurkan ku, memperburuk keadaanku, memperburuk hubunganku dengan keluargaku dan yang paling utama memperburuk ikatanku dengan Sang Pemilik Cinta sesungguhnya."
Bersambung .........
Komentar
Posting Komentar