Surat Cinta untuk Ayah, dari Putri kecil-mu :)
Ayah, bagaimana rasanya menjadi dirimu?
Duduk dihadapan seorang laki-laki yang dalam waktu singkat ini akan segera membawa pergi putrimu yang telah kau didik dan kau besarkan dengan seluruh upaya.
Waktu begitu cepat berlalu ayah, kini putri kecilmu yang selama ini kau jaga dan kau beri perlindungan, akan segera berpindah tanggung jawab bersama seorang imam yang telah mengucap ikrar janji akan menjaga putrimu ini dengan sebaik-baiknya.
Ayah menjadi dewasa bukanlah sebuah pilihan, sebenarnya aku takut menjadi dewasa, karena menjadi dewasa itu artinya aku akan segera kehilangan perlindungan darimu. Ayah, aku takut, dia laki-laki yang baru saja aku kenal, laki-laki yang bahkan tak ada hubungan darah denganku, laki-laki yang tak ku ketahui seperti apa isi hatinya, apakah benar dia akan menjagaku dengan sebaik-baiknya seperti ikrar yang dia ucapkan? Apakah dia akan menjagaku dengan penuh cinta dan kesabaran sebagaimana penjagaan ayah sejak aku kecil hingga saat ini?
Ayah, hatiku memang tersentuh ketia dia (imamku) mengucapkan sebuah kalimat perjanjian antara kau dan dia, yang artinya beberapa detik lagi aku akan menjadi halal untuknya. Namun, hati ini jauh tersentak dan ingin menangis ketika melihatmu dan mendengrkan kalimat demi kalimat yang kau ucapkan saat prosesi ijab qobul itu.
Ayah, adakah air mata yang membendung di matamu? Tak kulihat kau meneteskan air mata. Ayah, aku tahu kau tak pernah menunjukkan kesedihanmu, sungguh kau lelaki kuat dalam hidupku. Hatiku sangat pilu ayah, adakah waktu akan mengembalikan kebersamaan kita? Kebersamaan aku dalam perlindungan ayah.
Ayah, maaf belum sempat aku membalas semua jerih payahmu, dia (imamku) telah hadir untuk menjemputku menaungi bahtera samudera yang begitu luas.
Ayah, kau telah percayakan aku sepenuhnya pada dia(imamku). Aku percaya, pilihanmu adalah yang terbaik untukku. Karena kau takkan memilih lelaki lemah untuk menggantikanmu melindungi putrimu ini, iya kan ayah?
Ayah, terimakasih telah kau pilihkan dia menjadi pelengkap imanku. Ayah, aku tak akkan membuatmu menyesal telah memilih dia menjadi pendamping hidupku setelah kau pergi ke syurga-Nya. Aku akan berusaha menciptakan bahtera rumah tangga yang penuh keberkahan. Akan ku lebarkan sayap-sayap ikhlas dan kesabaran untuk menghadapi ujian2 hidupku selanjutnya bersama dia.
Tenanglah ayah, aku akan menjadi putrimu yang selalu mencintaimu. Tak akan aku lupakan satu bait do'a pun kepada-Nya, agar Dia menjadi sebaik-baik pelindung ayah, sebagaimana ayah telah melindungiku. Akan selalu kutitipkan doa pada-Nya, agar ayah tak pernah kesepian ketika aku pergi bersama dia(imamku).
______________________________________________
Ayah...
Hari ini mungkin aku tidak tahu seperti apa pilihanmu, kepada sosok seperti apa ayah akan mempercayakan tanggung jawab besar ini .
Tapi, aku percaya, suatu saat nanti ketika hati ayah memilih, maka pilihan itu adalah atas petunjuk Allah Yang Maha Membulak balikan hati manusia.
Dan sejak hari itu aku yakin bahwa pilihan ayah adalah takdir terbaik untukku dari Allah Yang Maha Mulia.
Duduk dihadapan seorang laki-laki yang dalam waktu singkat ini akan segera membawa pergi putrimu yang telah kau didik dan kau besarkan dengan seluruh upaya.
Waktu begitu cepat berlalu ayah, kini putri kecilmu yang selama ini kau jaga dan kau beri perlindungan, akan segera berpindah tanggung jawab bersama seorang imam yang telah mengucap ikrar janji akan menjaga putrimu ini dengan sebaik-baiknya.
Ayah menjadi dewasa bukanlah sebuah pilihan, sebenarnya aku takut menjadi dewasa, karena menjadi dewasa itu artinya aku akan segera kehilangan perlindungan darimu. Ayah, aku takut, dia laki-laki yang baru saja aku kenal, laki-laki yang bahkan tak ada hubungan darah denganku, laki-laki yang tak ku ketahui seperti apa isi hatinya, apakah benar dia akan menjagaku dengan sebaik-baiknya seperti ikrar yang dia ucapkan? Apakah dia akan menjagaku dengan penuh cinta dan kesabaran sebagaimana penjagaan ayah sejak aku kecil hingga saat ini?
Ayah, hatiku memang tersentuh ketia dia (imamku) mengucapkan sebuah kalimat perjanjian antara kau dan dia, yang artinya beberapa detik lagi aku akan menjadi halal untuknya. Namun, hati ini jauh tersentak dan ingin menangis ketika melihatmu dan mendengrkan kalimat demi kalimat yang kau ucapkan saat prosesi ijab qobul itu.
Ayah, adakah air mata yang membendung di matamu? Tak kulihat kau meneteskan air mata. Ayah, aku tahu kau tak pernah menunjukkan kesedihanmu, sungguh kau lelaki kuat dalam hidupku. Hatiku sangat pilu ayah, adakah waktu akan mengembalikan kebersamaan kita? Kebersamaan aku dalam perlindungan ayah.
Ayah, maaf belum sempat aku membalas semua jerih payahmu, dia (imamku) telah hadir untuk menjemputku menaungi bahtera samudera yang begitu luas.
Ayah, kau telah percayakan aku sepenuhnya pada dia(imamku). Aku percaya, pilihanmu adalah yang terbaik untukku. Karena kau takkan memilih lelaki lemah untuk menggantikanmu melindungi putrimu ini, iya kan ayah?
Ayah, terimakasih telah kau pilihkan dia menjadi pelengkap imanku. Ayah, aku tak akkan membuatmu menyesal telah memilih dia menjadi pendamping hidupku setelah kau pergi ke syurga-Nya. Aku akan berusaha menciptakan bahtera rumah tangga yang penuh keberkahan. Akan ku lebarkan sayap-sayap ikhlas dan kesabaran untuk menghadapi ujian2 hidupku selanjutnya bersama dia.
Tenanglah ayah, aku akan menjadi putrimu yang selalu mencintaimu. Tak akan aku lupakan satu bait do'a pun kepada-Nya, agar Dia menjadi sebaik-baik pelindung ayah, sebagaimana ayah telah melindungiku. Akan selalu kutitipkan doa pada-Nya, agar ayah tak pernah kesepian ketika aku pergi bersama dia(imamku).
______________________________________________
Ayah...
Hari ini mungkin aku tidak tahu seperti apa pilihanmu, kepada sosok seperti apa ayah akan mempercayakan tanggung jawab besar ini .
Tapi, aku percaya, suatu saat nanti ketika hati ayah memilih, maka pilihan itu adalah atas petunjuk Allah Yang Maha Membulak balikan hati manusia.
Dan sejak hari itu aku yakin bahwa pilihan ayah adalah takdir terbaik untukku dari Allah Yang Maha Mulia.
Komentar
Posting Komentar