Desa Impian

Mbah Kung, Mbah Putri...
Aku berharap hari ini kalian bersamaku, tidak... maksudku bersama anakmu (mamahku) dan menantumu (papahku) berdiri disini, tepat di depan sebuah rumah tua yang sudah lama kau tinggalkan.
Cucumu ini berhasil membawa mamah dan papah menginjak tanah kelahiranmu.
Tanah yang menyimpan cerita saksi hidupmu, tanah yang dengan terpaksa mengubur kenangan tentangmu bertahun-tahun lamanya, tanah yang merindukan kehadiranmu hingga kau kini tiada, tanah yang tak pernah mengkhianati darah kelahiranmu sebagai putra dari seorang Putri Kerajaan Mataram, tanah..... 
Seketika air mata membasahi pipi ini, mendengar cerita dari salah satu-satunya keluargamu yang masih bertahan tinggal di sebuah rumah dimana Mbah Kung dibesarkan.

Sejak kecil aku hidup di tengah kota yang ramai, bukan hanya ramai penduduk tapi juga ramai polusi. Yap!!  Kota Jakarta. Ketika hari raya idul fitri tiba, hampir seluruh teman di masa kecilku menceritakan persiapan mereka untuk pulang kampung atau pergi ke desa tempat keluarga mereka berada. Berbeda dengan ku, aku tetap tinggal di rumah dan berdiam diri menikmati kota yang cukup sepi karna ditinggalkan penduduknya pulang ke tempat asal mereka. Setiap tahun kulalui keindahan hari raya idul fitri seperti itu menikmati kota yang biasanya padat dan ramai, dalam seketika memiliki ruang yang luas tanpa macet dan polusi.
Diri ini merindukan suasana desa yang tenang, desa dengan pemandangan bukit, pegungungan, sawah, desa dengan kesejukan alami, desa dengan udara yang bersih. Tapi, sepertinya itu hanya desa impian yang tak akan kutemukan dalam hidup.

Sampai pada suatu takdir yang memaksa aku untuk hidup di Kota Semarang. Kota ini cukup menyenangkan bagiku, masih terdapat beberapa wisata yang menawarkan kesejukan alami dan setidaknya Kota ini tidak terlalu membuatku gerah dengan padatnya penduduk dan kendaraan. Kurang lebih 3.5 tahun aku menempa hidup, memperbaiki diri, mengisi akal dan hati dengan ilmu dan akidah di kota ini. Setelah masa studiku berakhir aku memutuskan melanjutkan kehidupan berada di dekat kedua orang tua. Beberapa hari setelahnya, salah satu dosen menghubungi ku, beliau memintaku untuk mengirim abstrak ke panitia acara Seminar Nasional di Universitas Muhamadiyah Purworejo. Tanpa banyak bertanya aku mengirimkan abstrak dari jurnal yang telah kubuat, singkat cerita abstrak tersebut lolos untuk selanjutnya diseminarkan. Aku memberikan kabar ini kepada kedua orang tua bahwa aku akan seminar di Purworejo, mendengar kabar tersebut Mamah dan Papah terkejut. kemudian mamah berkata "Purworejo? itukan desa kelahiran Mbah Kung, Lia. Mamah pingin banget kesana, tapi mbahmu tidak pernah ajak mamah kesana."

Skenario-Mu memang selalu romantis. Akhirnya Papah memutuskan kami sekeluarga pergi mengunjungi Purworejo. Dalam perjalanan tak bisa kubayangkan seperti apa dan bagaimana kondisi desa itu. Menelusuri jalan, mulailah kutemukan pemandangan bukit, pegungungan, sawah, dan kudapati disampingku mamah sedang tersenyum bahagia menikmati pemandangan yang memang tak kami temukan di tengah Kota. Kami mulai memasuki jalan lebih jauh, sepertinya desa yang akan kami kunjungi ini snagat terpencil. Sepanjang jalan kami hanya menemukan sawah yang terbentang luas dan juga perbukitan, rumah-rumah penduduk sesekali kami dapati tak banyak hanya hitungan jari. Kuperhatikan setiap sisi desa ini, desa ini bernama brengkol. Tak pernah kubayangkan, Desa Impian kini ada di depan mataku, desa yang bersih, tenang, sejuk, pemandangan alam yang indah, sungguh indah ciptaan-Mu.

Kami tiba di rumah tempat kelahiran Mbah Kung, adikmu Mbah Sarinah menyambut kami dengan penuh haru. seperti ada rindu yang tertahankan oleh keadaan dan kenyataan hidup. Setelah kami bertemu dan saling berbicara, barulah aku mengerti mengapa Mbah Kung tak pernah mendongengkan aku tentang desamu yang indah.Desa Impian yang selalu aku impikan. Emosi meluap dalam hati hanya air mata yang dapat mewakili perasaanku saat itu.

Syukurku tak henti, karena aku bahagia bisa kembali menyatukan tali persaudaraan yang sempat terputus. Mbah Kung, meski kau kini sudah tak bersama kami, kau harus tau, bahwa keluargamu merindukanmu untuk pulang, tanah kelahiranmu telah mengubur kerinduannya dibagian bumi paling dalam. Kini, biarkan anak, menantu, dan cucu-cucumu yang mewakilkan hadirmu untuk menghapus kerinduan mereka.


Salam Cinta,

Brengkol, Purworejo
27 Mei 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini tentangmu :)

first time