Cita Dunia vs Cita Akhirat

Tibalah pada sebuah pilihan, dimana impian Dunia yang sudah melekat dalam hati dan impian Akhirat yang kian meluap memenuhi rongga hati.

Bismillah..
Ini adalah kisah singkat tentang "MIMPI" adik kecilku..

Sejak kecil, selain sekolah formal, rizqi juga sekolah tahfidz di salah satu lembaga tahfidz Tangerang. Dia harus membagi waktu mainnya untuk sekolah tahfidz.
Setiap anak kecil kodratnya adalah senang bermain bukan ? Rizqi pun sama seperti anak kecil lainnya, senang bermain, tapi ketika mamah dan papah meminta dia mengurangi jatah mainnya untuk menghafal dan muroja'ah sebelum setoran ke ustadz di rumah tahfidz, dia tidak terlihat sedih, yang terlihat dia menikmati hafalannya.
Sesekali papah menjanjikan akan membawa hadiah besar ketika pergi dinas ke luar negeri, dengan syarat rizqi harus mampu menyelesaikan target hafalan yang sudah disepakati. Dan sudah pasti dia sangat bahagia dan semakin semangat menghafal.
Proses menghafal ini sudah di mulai sejak rizqi umur 3th, hanya hafalan-hafalan ringan, kemudian setelah masuk SD, baru mulai fokus menghafal dengan bimbingan tajwid.

Sejak kecil impiannya adalah menjadi pilot. Mungkin karna melihat kecanggihan Papah dalam masalah pesawat. Dia bilang: "Iqi mau jadi Pilot Hafidz."
Waktu berjalan begitu cepat, kini dia harus menjalani masa SMP. Semakin semangat dia belajar, semakin kuat impiannya untuk menjadi Pilot Hafidz Qur'an.

Meskipun nilainya cukup tinggi untuk masuk SMP Negeri favorit di Tangerang, tapi papah memilih menempatkan Rizqi di sekolah Islam Swasta. Dan begitu banyak prestasi yang di dapatkannya selama SMP, dan pastinya impiannya untuk jadi Pilot semakin kuat.

Singkat cerita..
Suatu hari, Rizqi duduk di samping papah dan menceritakan tentang mimpinya.
"Iqi mimpi, sholat di sebuah masjid besaaaar, di luarnya banyak payung2 besar, masjidnya bagus Pah, Iqi belum pernah lihat."
Di usia nya yang masih terbilang kecil, dia memang belum pernah melihat masjid nabawi dan masjidil haram.
Kemudain papah mengambil hp, dan menunjukan Masjid Nabawi di Madinah.
Spontan anak kecil itu berteriak "Ini Pah, ini masjidnya. Iqi sholat disini tadi malam di mimpi."
"Maa syaa Allah" hanya itu jawaban papah saat itu.

Naik kelas 2, adikku yang bulat dan menggemaskan mulai menyusut, kurus dan tinggi itulah penampilan barunya. Mungkin dia mulai memikirkan masa depannya. entahlah hehe
Dia, adikku, diusia remaja nya, yang seharusnya masih memikirkan tentang nongkrong, dan senang2, tapi tidak dengan rizqi. Mungkin dia banyak belajar dari lingkungan, media islam, berita luar, tentang perpecahan umat, bagaimana bisa terjadi , bagaimana seperti ini dan seperti itu, dia tanyakan itu kepada Papah.
Sejak kecil kami memang menjadikan Papah adalah sumber utama tempat kami bertanya.
Itulah salah satu alasan kuat prinsipku tentang pernikahan "bahwa ketika aku menikah aku bukan hanya menginginkan pasangan yang akan membawa langkah kakiku ke surga, tapi lebih dari itu aku menginginkan dia menjadi "SUPER ABI" untuk anak2 ku hingga mereka mampu menjadi Da'i di jalan Allah. Berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah salallahu 'alahi wasalam."

Loh kok jadi cerita tentang pernikahan ? 😂
*Back to the topics.

Oke. kebingungan yang rizqi dapati dicurahkan kepada Papah, satu2nya lelaki yang mampu membuat kami mengerti benar dan salah. Singkatnya Papah jawab pertanyaan rizqi dengan kalimat seperti ini "Jika Rizqi ingin memahami ilmu agama yang murni, pergi ke madinah. Belajar dari Halaqoh2 syaikh disana , yang masih terjaga kemurnian ilmunya. Memiliki sanad dari Rasulullah salallahu 'alahi wasalam. Tapi ingat, tidak mudah untuk bisa belajar di sana. Bukan perjalanan main2 untuk bisa sampai di madinah."
Terdengar seperti nasihat, tapi sebenarnya itu adalah tantangan.
Dan Rizqi hanya terdiam.

Tiba waktu penentuan, kelas 3 adalah penentuan kemana langkah yang harus dia ambil.
Sekolah yang akan mendekatkan dia pada mimpinya "Pilot" atau melanjutkan sekolah yang akan mengantarkan dia ke Madinah.
2 tahun sepertinya masih tidak cukup bagi rizqi untuk menentukan pilihannya.
Hingga mendekati ujian Nasional, salah seorang teman Papah merekomendasikan Pesantren Islam Al-Irsayd di kota Salatiga. Rizqi dan Papah banyak cari info terkait pesantren ini. Hingga selesai ujian akhir Nasional, Rizqi memutuskan untuk melepaskan impiannya menjadi Pilot Pesawat.
Kalimat yang hingga saat ini selalu kami ingat, Rizqi bilang :
"Pah, Mah. Rizqi mantap ingin sekolah di pesantren Al-Irsyad. Tapi mungkin Rizqi gak bisa menjadi Pilot jika sekolah disana. Bismillah, dengan ijin Allah, Impian Rizqi saat ini adalah Menjadi Pilot bagi Ummat muslim."
Maa syaa Allah, suasana seketika hening. Kemudian pecah tangisan seorang Ibu. Menangis karna mendengar impian mulia dari snag anak, dan menangis karna Rizqi, anak laki2 kesayangannya akan berada jauh dari nya, dalam waktu yang tidak sebentar.

Menjadi Pilot Hafidz Qur'an adalah impian yang mulia, butuh kekuatan untuk meyakinkan hatinya untuk melepaskan impian itu. Dan Allah yang menguatkan hatinya, Allah yang mudahkan langkahnya, dan Allah yang mengantarkan dia pada Impian masa depannya "PILOT UMMAT".

Barokallah dek, semoga Allah selalu memberikan mu hidayah, menjagamu dalam keimanan, menjadikan mu orang yang senantiasa syukur dan sabar  . 💗

MADINAH menunggu mu !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini tentangmu :)

first time