Jangan Kurung Diri Kita, di Bingkai Kehidupan yang kita buat sendiri !
Ketika mereka semua bertanya dengan pertanyaan yang sama "Kenapa, Lia? Kenapa ?"
Dan aku hanya berusaha tersenyum.
Aku berharap senyum itu bisa membuat mereka memahami. "I'm okay."
Aku juga bertanya pada diri ku sendiri "Kenapa?"
Aku berusaha menemukan jawaban itu, aku berusaha mencari, semakin dalam, semakin kuat mencari, semakin kurasakan nafas-ku sempit, hingga aku mengerti di titik mana aku harus berhenti. Langkah-ku terhenti di rumah Allah, satu2nya masjid besar yang ada di lingkungan tempat kerja-ku.
Wudhu/bersuci adalah pertolongan pertama yang mampu aku lakukan, ketika otak tak mampu bekerja dengan baik, ketika hati mulai beku dan ketika kaki mulai merasakan beratnya langkah.
Aku mulai dengan basuh ke dua telapak tanganku.
Perlahan, aku menikmati air yang mengalir dengan lembut.
Semua masalah dunia, seperti ikut mengalir bersama air.
Hingga terakhir ku basuh kaki, dan aku berdiri tegap kemudian berdoa setelah wudhu.
Aku mulai merasakan dada yang sesak terasa lapang, tubuhku terasa lebih ringan , dan kakiku menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Aku menaiki anak tangga dengan hati2, aku menyadari saat itu pikiranku kosong, segera komat kamit baca zikir, karena syaithon akan sangat mudah masuk dalam aliran darah manusia, ketika manusia itu sendiri lengah dalam mengingat (dzikir) kepada Allah.
Masuk ke dalam ruangan, hanya ada beberapa wanita di dalam sana.
Aku mencari tempat nyaman untuk ber-duaan dengan Allah. Iya, Tempat favorit ku sudut ruangan.
Gerakan-gerakan sholat membuat tubuhku menjadi lebih rileks, ketika sujud, semua beban terasa tertumpahkan tanpa sisa. Aku memulai doa ku dengan kalimat "Ya Allah" dan tangisan yang berusaha ku tahan akhirnya meluap, terus mengalir, semua sesak dalam hati terurai.
Belum sempat aku sampaikan keluh kesahku, namun semua seperti sudah terselesaikan. Ya, memang benar, Allah sangat memahami isi hati kita, Allah tahu kondisi kita, Allah tahu, terkadang ketika kita tak mampu lagi merangkai kata, cukup dengan istighfar dan terus mensucikan nama Allah dengan keyakinan, maka pertolongan2 Allah akan datang, seketika masalah besarmu, terselesaikan begitu saja. Tanpa kamu sadari.
Selesai sholat, ustadz yang sedang mengisi kajian di masjid itu menyampaikan "Jangan kurung diri kita di bingkai kehidupan yang kita buat sendiri!"
Ujian itu semakin besar karena kita yang buat sendiri, kesedihan semakin terasa menyedihkan karna kita yang buat kesedihan itu semakin kuat, Cukup ! Jangan kurung diri kita dalam bingkai kehidupan yang kita buat sendiri.
Hingga aku memahami, bahwa ada hal yang tidak mampu dimengerti dengan kata-kata.
Maka , aku menyerahkan masalah ini kepada Dia yang menggenggam hati manusia.
Ketika aku tidak mampu menjawab semua pertanyaan mereka, maka pilihan terbaik adalah membiarkan Allah yang menjawab dengan cara-Nya yang indah.
Dan aku hanya berusaha tersenyum.
Aku berharap senyum itu bisa membuat mereka memahami. "I'm okay."
Aku juga bertanya pada diri ku sendiri "Kenapa?"
Aku berusaha menemukan jawaban itu, aku berusaha mencari, semakin dalam, semakin kuat mencari, semakin kurasakan nafas-ku sempit, hingga aku mengerti di titik mana aku harus berhenti. Langkah-ku terhenti di rumah Allah, satu2nya masjid besar yang ada di lingkungan tempat kerja-ku.
Wudhu/bersuci adalah pertolongan pertama yang mampu aku lakukan, ketika otak tak mampu bekerja dengan baik, ketika hati mulai beku dan ketika kaki mulai merasakan beratnya langkah.
Aku mulai dengan basuh ke dua telapak tanganku.
Perlahan, aku menikmati air yang mengalir dengan lembut.
Semua masalah dunia, seperti ikut mengalir bersama air.
Hingga terakhir ku basuh kaki, dan aku berdiri tegap kemudian berdoa setelah wudhu.
Aku mulai merasakan dada yang sesak terasa lapang, tubuhku terasa lebih ringan , dan kakiku menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Aku menaiki anak tangga dengan hati2, aku menyadari saat itu pikiranku kosong, segera komat kamit baca zikir, karena syaithon akan sangat mudah masuk dalam aliran darah manusia, ketika manusia itu sendiri lengah dalam mengingat (dzikir) kepada Allah.
Masuk ke dalam ruangan, hanya ada beberapa wanita di dalam sana.
Aku mencari tempat nyaman untuk ber-duaan dengan Allah. Iya, Tempat favorit ku sudut ruangan.
Gerakan-gerakan sholat membuat tubuhku menjadi lebih rileks, ketika sujud, semua beban terasa tertumpahkan tanpa sisa. Aku memulai doa ku dengan kalimat "Ya Allah" dan tangisan yang berusaha ku tahan akhirnya meluap, terus mengalir, semua sesak dalam hati terurai.
Belum sempat aku sampaikan keluh kesahku, namun semua seperti sudah terselesaikan. Ya, memang benar, Allah sangat memahami isi hati kita, Allah tahu kondisi kita, Allah tahu, terkadang ketika kita tak mampu lagi merangkai kata, cukup dengan istighfar dan terus mensucikan nama Allah dengan keyakinan, maka pertolongan2 Allah akan datang, seketika masalah besarmu, terselesaikan begitu saja. Tanpa kamu sadari.
Selesai sholat, ustadz yang sedang mengisi kajian di masjid itu menyampaikan "Jangan kurung diri kita di bingkai kehidupan yang kita buat sendiri!"
Ujian itu semakin besar karena kita yang buat sendiri, kesedihan semakin terasa menyedihkan karna kita yang buat kesedihan itu semakin kuat, Cukup ! Jangan kurung diri kita dalam bingkai kehidupan yang kita buat sendiri.
Hingga aku memahami, bahwa ada hal yang tidak mampu dimengerti dengan kata-kata.
Maka , aku menyerahkan masalah ini kepada Dia yang menggenggam hati manusia.
Ketika aku tidak mampu menjawab semua pertanyaan mereka, maka pilihan terbaik adalah membiarkan Allah yang menjawab dengan cara-Nya yang indah.
Masjid blok m ya,,
BalasHapusKata kata ustadz khalid ni,,, jgn kurung diri kita dalam bingkai hidup yg kita buat sendiri,
BalasHapus