Abi dan Anak lelakinya
Malam itu dia dapat pinjaman hp untuk telfon keluarga.
Dia manfaatkan waktu singkat itu untuk menghilangkan kerinduan dengan keluarganya.
Kemudian dia cerita tentang seorang temannya. Katanya, sore itu setelah sholat ashar duduk dimasjid , murojaah hafalan hingga selesai kemudian dilanjut membicarakan tentang keluarga.
Adikku mulai cerita kisah liburannya hingga dia cerita tentang kerinduannya, "Ana pingin pulang lagi ke rumah nih. Hehe"
Kemudian temannya ini mulai membuka pembicaraan, antum harus pandai bersyukur Qi, pintu surga antum masih terbuka ke2nya, umi dan abi. Jangan sia- siakan waktu ketika pulang ke rumah.
Jika antum rindu, masih bisa pulang ke rumah untuk melihat mereka. Jika punya kesempatan selalu membersamai mereka.
Ana benar2 merasa kehilangan sosok ayah hari itu Qi, ketika abi ana meninggal. Biasanya setiap subuh kami berangkat sholat bersama, masih gelap, hanya ada cahaya sedikit yg membuat bayangan tubuh ana dan abi ana terlihat berjalan bersama.
Sekarang kalo ana melangkah ke masjid cuma ada satu bayangan, itu tubuh ana sendiri, kemudian ana menangis sepanjang jalan ke masjid. Merindukan tangan yang merangkul pundak ini, merindukan teman melangkah ke masjid, merindukan sosok ayah yang menasihati.
Ketika ana rindu, ana hanya bisa menyampaikannya lewat doa, hanya bisa membayangkan wajah abi ana dan hanya bisa mengingat kenangan2 indah bersama beliau, karna abi ana sudah tidak akan pernah kembali lagi disisi ana, Qi.
Adikku meneteskan air matanya.
Kata siapa air mata menunjukan kelemahan ?
Air mata itu menunjukan kelembutan hati. Menunjukan kasih sayang yang tulus, dan menunjukan khawatir kehilangan orang yang dicintainya dengan tulus. Iya, dia menangis karna dia tahu suatu saat nanti mungkin dia akan merasakan hal yang sama. Kehilangan, entah dia yang akan kehilangan Ayah lebih dulu atau Ayah kami yg akan kehilangan kami lebih dulu.
Dan hanya Allah yang mengetahui kapan dan di belahan bumi mana Malaikat maut akan menjemput kita.
Semoga ketika kita dijemput, hati dalam keadaan iman yang tinggi, dan kita sudah mempersiapkan koper yang banyak, berisi bekal amal sholeh untuk menyelamatkan diri di yaumul hisab.
Barokallahu fiikum.
Dia manfaatkan waktu singkat itu untuk menghilangkan kerinduan dengan keluarganya.
Kemudian dia cerita tentang seorang temannya. Katanya, sore itu setelah sholat ashar duduk dimasjid , murojaah hafalan hingga selesai kemudian dilanjut membicarakan tentang keluarga.
Adikku mulai cerita kisah liburannya hingga dia cerita tentang kerinduannya, "Ana pingin pulang lagi ke rumah nih. Hehe"
Kemudian temannya ini mulai membuka pembicaraan, antum harus pandai bersyukur Qi, pintu surga antum masih terbuka ke2nya, umi dan abi. Jangan sia- siakan waktu ketika pulang ke rumah.
Jika antum rindu, masih bisa pulang ke rumah untuk melihat mereka. Jika punya kesempatan selalu membersamai mereka.
Ana benar2 merasa kehilangan sosok ayah hari itu Qi, ketika abi ana meninggal. Biasanya setiap subuh kami berangkat sholat bersama, masih gelap, hanya ada cahaya sedikit yg membuat bayangan tubuh ana dan abi ana terlihat berjalan bersama.
Sekarang kalo ana melangkah ke masjid cuma ada satu bayangan, itu tubuh ana sendiri, kemudian ana menangis sepanjang jalan ke masjid. Merindukan tangan yang merangkul pundak ini, merindukan teman melangkah ke masjid, merindukan sosok ayah yang menasihati.
Ketika ana rindu, ana hanya bisa menyampaikannya lewat doa, hanya bisa membayangkan wajah abi ana dan hanya bisa mengingat kenangan2 indah bersama beliau, karna abi ana sudah tidak akan pernah kembali lagi disisi ana, Qi.
Adikku meneteskan air matanya.
Kata siapa air mata menunjukan kelemahan ?
Air mata itu menunjukan kelembutan hati. Menunjukan kasih sayang yang tulus, dan menunjukan khawatir kehilangan orang yang dicintainya dengan tulus. Iya, dia menangis karna dia tahu suatu saat nanti mungkin dia akan merasakan hal yang sama. Kehilangan, entah dia yang akan kehilangan Ayah lebih dulu atau Ayah kami yg akan kehilangan kami lebih dulu.
Dan hanya Allah yang mengetahui kapan dan di belahan bumi mana Malaikat maut akan menjemput kita.
Semoga ketika kita dijemput, hati dalam keadaan iman yang tinggi, dan kita sudah mempersiapkan koper yang banyak, berisi bekal amal sholeh untuk menyelamatkan diri di yaumul hisab.
Barokallahu fiikum.
Komentar
Posting Komentar