Kenapa dan Bagaimana ?

Kenapa ?
Kenapa kita mengerjakan suatu amalan ibadah ?
Apa tujuan dan motivasi kita ber-ibadah?

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)

Dalil lainnya adalah firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam surat Al-Mulk:2, yang artinya :
"Dzat Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya."

Fudhail bin 'Iyaad rohimahullah seorang Tabi'in yang agung mengatakan ketika menafsirkan firman Allah dalam surat al-mulk ayat 2, maksudnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar (mengikuti yang diajarkan Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam).

Bagaimana ?
Bagaimana kita ber-ibadah ?
Apakah ibadah yang kita kerjakan selama ini dengan ilmu ?
Atau hanya mengikuti tradisi orang tua sejak kecil ?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (Shahih Bukhari dan Muslim)

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [ali Imran : 31].

Yang pertama kita mencintai Allah dan yang kedua Allah mencintai kita. Setiap kita bisa mencintai, namun tidak setiap kita bisa dicintai. Syarat untuk dapat dicintai oleh Allah adalah dengan ittiba' kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

Dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat ’ (sesungguhnya amal tergantung dari niatnya) merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.”

So...
Kenapa dan Bagaimana ? Ikhlas dan Ittiba'.

Ikhlas karena Allah (Mengharapkan perjumpaan dengan Allah) dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan inilah syarat diterimanya ibadah.

Maka sudah seharusnya kita memperhatikan amalan ibadah kita.
Senantiasa berusaha ikhlas karena Allah dalam setiap Amal.
Senantiasa berjihad melawan setan yang akan terus menggoda dan merusak amal kita.
Senantiasa menghadirkan ruh dalam setiap ibadah.

Bagaimana menghadirkan ruh ? Kenali Allah dalam hatimu !
Bagaimana mengenal Allah Subhaanahu wa ta'aala? Dengan Ilmu.
Maka teruslah berjuang mempelajari ilmu syar'i !

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini tentangmu :)

first time