Saudaraku...
Jalan ke surga adalah jalan yg penuh dengan rintangan, tidak sampai kesana kecuali orang yang bersabar.
Ada perintah yang harus dikerjakan.
Ada larangan yang harus dijauhi.
Dan Ada ujian yg harus kita sabar menghadapinya.
Rasulullah shallallah'alaihi wasallam bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
"Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat." (HR. Muslim)
Kesenangan dunia adalah kesenangan yang sedikit, sebentar dan banyak kekurangan sedangkan kesenangan akhirat adalah kesenangan yang banyak, kekal selamanya dan tanpa ada kekurangan sedikitpun.
Allah subhanahu wata'ala berfirman, yang artinya :
(QS. Al-A'la 87: Ayat 16-17)
Dan Allah subhanahu wata'ala berfirman:
اعْلَمُوٓا أَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْأَمْوٰلِ وَالْأَوْلٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطٰمًا ۖ وَفِى الْأَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوٰنٌ ۚ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ إِلَّا مَتٰعُ الْغُرُورِ
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 20)
Untuk mendapatkan surga bukan berarti manusia harus meninggalkan seluruh kesenangan dunia.
Allah subhanahu wata'ala menciptakan dunia dan kenikmatannya supaya kita manfaatkan dengan baik untuk mencari ridho Allah subhanahu wata'ala dan surga-Nya . Orang yang tercela adalah yang menjadikan kebahagiaan dunia sebagai tujuan dan melupakan kebahagiaan akhirat.
Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Komentar
Posting Komentar